sekian lama kita tak bersua membuat ku ragu akan keakraban kita dahulu. rasa sungkan dan tak enak hati terlalu mendominasi untuk kembali menyapamu,
"bagaimana kabarmu?" kalimat itu begitu sulit terucap bahkan hanya lewat tulisan dalam chating. kalimat itu menggangtung tak jelas diujung lidah dan tertahan di ujung jari saat ingin mengetiknya.
bahkan hanya untuk sekedarmengatakan 'hy' pun rasanya bagai tercekik.
dirimu... entah mengapa begitu jauh tak terjangkau kini. keakraban kita dahulu seakan tak tersisa walau setetes. padahal aku ingat betul bagaimana dulu kita tertawa, ngobrol dan bercanda melewatkan waktu, namun ketika kini aku kembali memandangi gambarmu, aku semakin ragu, apakah itu benar terjadi diwaktu dulu? atau kah ingatn-ingatan ku yang terlalu nyata?? kenangan tentangmu semakin kabur dan membuatku tak yakin. benarkah dahulu kita pernah bersama??
dirimu..jauuhh..dalam hayalku kau nyata bersama kenangan-kenangan kita, namun ketika kupandangi lagi potretmu, aku ragu akan kenangan itu.kamu terlalu jauh untuk ku.. tidak mungkin dulu kita pernah bersama,,, kenangan tentangmu, mungkin hanya hayalku yang mendesak ingin menjadi nyata.
sungguh, rinduku terus menumpuk. namun hanya mampu ku pendam. tiap kali rindu itu menghapiri, aku diam-diam memperhatikanmu, mengamatimu, mengikutimu, dan tersenyum melihat perkembanganmu. senang hatiku bila mendapati kabar baru tentangmu, baik dari teman, akun sosial media, bahkan observasi lapangan langsung. hahah.. yah, aku serius, tak jarang rinduku memuncak padamu. bila rinduku memuncak, ingin rasanya mengulang kenangan-kenangan yang tersimpan dalam ingatanku. namun, menyapamu sesuatu yang mustahil, mengikuti perkembangan akun sosmed mu membuatku semakin rindu, maka tak jarang pula aku turun langsung ke lapangan, melakukan observasi yaitu mengamatimu secara langsung. hahha... maaf jika aku membuatmu takut, tapi saat rindu itu menyerang ingin rasanya mengulang masa itu, maka aku akan menyusuri jalan-jalan yang pernah kita lewati, termasuk melewati jalan depan rumahmu. hahaha.... aku malu mengakuinya, tapi kini aku ingin kamu tau, bahwa aku sangat merindukanmu.
aku sering sengaja lewat depan rumahmu, berharap bisa melihat sedikit bayangan dirimu, walau lebih sering kecewa yang kudapat, tak apalah, hanya melihat rumahmu saja sudah cukup membuat hatiku deg-degan tak karuan, hahahha :D
teman-teman juga sering bercerita tentangmu,, cerita-cerita itu sedikit mengobati kerinduanku.
dirimu... begitu istimewa dihatiku.
jujur, aku kaget juga sangat bahagia. malam ini kamu menyapaku. bagai tersiram embun saat digurun,,, begitu sejuk. thanks sudah mengobati rinduku yang selama ini terpendam.
walau obrolan kita tadi tidak penting, tapi aku sangat bahagia bisa berbincang lg denganmu,
dirimu,, cinta pertamaku...
yahh,, mungkin kamu tak pernah tau, bahwa sebenarnya dirimu cinta pertamaku. akupun baru sadar setelah kebersamaan kita usai.
saat itu, momen yang tak akan pernah terlupakan. saat aku benar-benar merasakan cinta untuk pertama kalinya.
saat itu aku kelas satu SMA, sedang belajar dalam kelas. entah mengapa hatiku tergerak untuk memandang k arah lapangan, dikejauhan (sekitar 30-50 meter, lumayan jauh sehingga aku tidak bisa mengenali wajah seseorang) aku melihatmu. untuk pertama kalinya sejak tiga tahun silam, sejak kita berpisah, sejak aku dan dirimu tak pernah berkomunikasi lagi.
sebenarnya hingga hari ini pun aku masih ragu, apakah itu dirimu ataukah orang lain? (karna aku tak bisa melihat jelas wajahnya)
saat itu, ketika aku melihat ke arah lapangan, aku melihat seseorang, entah mengapa hatiku berkata itu dirimu, hatiku terasa dinginn...bagai dialiri oleh es, waktu terasa berhenti sepersekian detik saat itu. saat itu, hatiku berkata itu adalah dirimu, dan saat itu aku sadar betapa aku saaaaangat merindukanmu. aku jatuh cinta . saat itu dirimu cinta pertamaku.
walau aku tak yakin itu adalah dirimu, namun saat istrahat pelajaran aku mendengar teman-temanku berkata bahwa tadi memang ada dirimu di sekolahku, dan aku tambah yakin bahwa yang aku lihat tadi benar-benar adalah dirimu. saat itu aku tau, dirimu cinta pertamaku.
Showing posts with label Kisah Cinta. Show all posts
Showing posts with label Kisah Cinta. Show all posts
Sunday, 24 May 2015
Tuesday, 1 July 2014
Bayangan Masa Lalu #2
oke, Mimin kembali lagi....
hm... sampai mana ceritanya kemaren? ah, ya.. sampai Isty, sahabat Dera datang menemui Dera setelah mendengar kabar Duka kematian Erik. Dera sedih bukan main. Nah, sekarang Mimin akan lanjut ceritanya, apakah Dera mampu melewati hari-harinya tanpa Erik?! Cekidot......!!! ^____^
hm... sampai mana ceritanya kemaren? ah, ya.. sampai Isty, sahabat Dera datang menemui Dera setelah mendengar kabar Duka kematian Erik. Dera sedih bukan main. Nah, sekarang Mimin akan lanjut ceritanya, apakah Dera mampu melewati hari-harinya tanpa Erik?! Cekidot......!!! ^____^
Bayangan Masa Lalu #2
Dera tidak tau
harus berbuat apa. Tiba-tiba air matanya tumpah ruah. Emosinya tak karuan. Dia
lalu menangis meraung-raung. “erik….” perasaannya benar-benar terluka, dera tak
mengerti apa yang terjadi, satu hal yang dia rasakan, sakit yang termat dalam
dari hatinya. Isty, yang ternyata telah mendengar kabar duka tersebut, langsung
mendatangi rumah Dera. Mendengar suara tangisan dera dari luar, isty tanpa
mengetuk langsung masuk dan mendapati dera sedang duduk tersungkur dibawah
sofa. Siapapun yang melihatnya pasti akan miris perasaanya. Isty tak tega
melihat sahabatnya. Dia coba untuk menenangkan Dera, isty membuatkan teh hangat
manis. Dera yang mulai lemas karna menangis, nurut saja ketika isty menyuguhkan
teh tersebut untuk diminumnya.
Setelah beberapa
menit, Dera sudah agak tenang. Dia suda bisa menguasai emosinya meski air mata
masih tetap mengalir dari matanya. “ty, kamu tau dimana erik sekarang? Gw mau
ketemu dia ty. U maukan temanin gw kesana ty?” dera memelas
“pasti ra aku
temanin kamu kesana. Tadi erik dalam perjalanan ke rumahnya, mungkin sekarang
dia udah sampai. Jadi kita langsung ke rumahnya saja yah” ist mengusulkan. Dera
hanya mengangguk. Setelah mengganti pakean, dera dan isty langsung menuju rumah
duka.
Sampai disana, Dera
tak mampu menahan air matanya lagi. Meski sudah tak sehisteris tadi, tapi dera
mulai menangis lagi. Dia mendekati jenajah yang diam tak bergerak itu.
“rik… maafin aku.
Rik, kok kamu pergi gak pamit-pamit ma aku? Kamu kan janji kemanapun pasti
pamit. Kemarin kamu janji, gak akan ninggalin aku sendiri lagi, mulai sekarang
kemanapun pergi kamu selalu akan mengajakku. Tapi kenapa sekarang kamu pergi
rik?” dera mulai terisak-isak disamping tubuh kekasihnya. Naidah, Ibunda erik,
merasa pilu mendengarucapan calon mantunya itu. Karna bagia Bunda Naidah. Dera
sudah seperti anak sendiri, karma kebetulanya Bunda Naidah juga masih ada
hubungan kerabat dengan Ibunya Dera. Bunda Naidah memeluk Dera, mereka saling
menguatkan. “tante, semalam erik janji ma aku, dia gak akan ninggalin aku
lama-lama lagi. Cukup sebulan kemarin itu saja. Setelahnya kami akan selalu
berpergian bersama tante” Dera meracau tak jelas membuat Bunda Naidah semakin
pilu hatinya. Beberapa jam kemudian, Ibu Mila, Ibunya Dera datang melayat. Dia
segera menenangkan Dea yang masih saja menangis. “Ibu, kenapa tuhan mengambil
erik secepat ini Bu?” dera mengeluh dipelukan Ibunya. Ibu mila mera terenyuh
melihat kesedihan anaknya. Dia mengajak dera dalam kamar untuk istirahat. Karna
Zenajah akan dimandikan sebelum dikebumikan.
“sabar yah
sayang,,,, semua pasti ada hikmahnya. Tuhan pasti punya rencana yang indah di
balik ini semua” Ibu Mila berusaha menghibur anaknya.
“tapi Ibu, Erik
belum mau pergi. Dia masih punya banyak janji sama aku”
“iya sayang..
kematian itu bukanlah suatu yang bisa kita atur. Kita ingin milik Tuhan, jadi
kapan saja Tuhan memanggil kita, kita gak bisa mengelak” Ibu Mila menjelaskan
seperti halnya menjelaskan pada anak kecil. Dera bukanya tak tahu hal itu,
hanya saja kesedihan yang mendalam membuatnya tak bisa menerima kejadian ini.
Dera terus meracau dan menangis hingga ahirnya tertidur kelelahan.
Menjelang subuh,
Dera terbangun dan berharap semuanya hanya mimpi. Namun keada sekitar rumah
yang ramai, kenyataan bahwa dia sedang tertidur dikamarnya erik, membuatnya
sadar bahwa kejadian semalam itu benar-benarnyata. Dera yang sudah gak tenang,
melangkah ke kamar mandi, berwudlu lalu menunaikan sholat dua rakaat. Dia
medoakan kebaikan untuk kekasihnya. Dia menagis dalam sholatnya, seluruh do’a
dan ayat yang dia hafal, dia layangkan untuk mendoakkan erik. berharap orang
yang dicintainya bisa bahagia di alam sana.
Selepas acara
penguburan, Dera dan Ibunya langsung pamit untuk pulang ke Solo, rumah Ibunya.
Bunda Naidah menawarkan untuk menginap sehari dua hari lagi, namun Dera
menolak, dengan alasan akan semakin sedih bila melihat barang-barangnya,
foto-foto mereka berdua dikara erik. Bunda Naidah mengerti dan melepas
kepergian mereka.
Dera sengaja pulang
ke Solo karna belum sanggup tinggal sendiri dirumah kontrakannya di jogja. Dia
takut akan larut dalam kesedihan bila sendirian.
Ahirnya Dera
melanjutkan studinya di Solo dengan jurusan yang sama, teknik Arsitektur, karna
tak sanggup kembali di Jogja, erlalu banyak kenangan yang mengingatkannya pada
erik disana.
Sekarang, meski
sudah 3 tahun berlalu sejak kejadian itu. Meski Dera sudah terlihat baik-baik
saja, tetap saja nama erik dan kenangan tentang mereka masih tersimpan rapi
dalam hatinya. Kadang-kadang dalam sholat malamnya, kenangan itu masih sering
mengundang air matanya.
Keputusannya untuk
menjadi guru SD awalnya sangat ditentang oleh Ayahnya. Sang ayah merasa buah
hatinya memiliki potensi untuk melakukan hal lebih sebagai ST, bahakan Dera
termasuk mahasiswa terbaik dari kampusnya. Banyak orang yang menyayangkan
keputusannya untu menjadi guru SD di daerah terpencil tersebut. Hanya sang Ibu
yang mengerti perasaanya. Sang Ibu membantunya meyakinkan sang Ayah bahwa itu
yang terbaik bagi Dera, yang akan membuatnya bahagia. Hingga ahirnya dengan
berat hati sanga ayah mengantarkan buah hatinya di daerah terpencil itu.
Berada ditengah
anak-anak sangat membantu Dera untuk menghibur hatinya. Kadang-kadang dia
teringat obrolan-obrolan panjang mereka saat bersama “ay, ntar kalo dah nikah,
mau punya anak berapa?” Dera menggoda Erik
“gimana kalo
tujuh?”
“gak kebanyakan
tuh?” Dera tertawa
“kan biar rame
sayang. Bila perlu kembar” lalu mereka tertawa terbahak-bahak
“aku maunya ntar
kita tinggal di pinggir kota, rumah mungil tapi halamannya gede” ucap Dera
suatu kali
“kenapa bukan
dikota?” Tanya erik meski sebenarnya dia sudah tau kanapa.lima tahun
kebersamaan mereka membuat Erik sangat memahami Dera.
Monday, 30 June 2014
Bayangan Masa Lalu
Bayangan Masa lalu
Siang itu dera
tampak capek, terlihat dari peluhnya yang meleleh sekitar wajahnya. Seharian ini
dia harus mengoreksi setumpuk buku PR murid-muridnya diruang guru yang tak
ber-AC itu, maklum dera bekerja disebuah Sekolah Dasar didaerah terpencil jadi
wajar saja bila fasilitasnya masih sangat minim jika tidak mau dibilang tidak
memadai. Tapi Dera sangat bersyukur diterima bekerja sebagai Guru Matematika di
SD itu. Bukan karna tidak ada suatu alas an khusus dea memilih tempat terpencil
seperti itu.
Setahun yang lalu,
ketika Dera resmi menyandang gelar S.T nya, Dera sudah memutuskan akan mengabdi
didaerah yang jauh sebagai Guru, sejauh yang bisa dia jangkau dari kota
tempatnya menghabiskan waktu sekitar lima tahun terahir ini, kota jogja. Alhasil,
sekarang dia terdampar disekolah menyedihkan ini, sekolah dasar di NTT,
kabupaten waingapu. Sekolah itu terletak sekitar 100 KM dari kota. Desa ini
masih sangat primitive, jangankan AC, air bersih saja masih sangat susah
didapatkan.
Keputusan untuk
pergi jauh ini terpaksa Dera ambil karena ingin menata kembali hatinya. Saat itu
hatinya sangat terluka akibat seseorang. Tepatnya tiga tahun yang lalu, ketika
dera masuk tahun ke empat studynya.
Kilasan masa lalu….
“sayang, lagi
dimana?” Dera tersenyum malu-malu membaca sms dari kekasih hatinya, dengan cepat
ditekanya tombol balas dan segera mengetik “di kampus. Kenapa?”
Beberapa detik
HPnya sudah bergetar kembali
“jamberapa
kuliahnya selse? Aku jemput yah”
“sekitar 15-an
menit lagi. Okeh”
Dera yang merasa
bahagia melmbung, dengan gelisah melanjutkan kuliah hari itu. Dia ingin segera
keluar kelas dan bertemu dengan kekasihnya tercinta. Rindu yang telah mnggunung
selama sebulan ini ingin segera dia lampiaskan. Selama sebulan mereka tak
bertemu tatap muka karna Erik, kekasihnya, harus berangkat ke Jepang dalam
rangka perjalanan studi. Erik yang kebetulan seorang mahasiswa jurusan
kebudayaan asing itu harus melakukan penelitian selama sebulan di Jepang
bersama dosen pembimbingnya.
Lima belas menit
berlalu, Dera segera merapikan buku-bukunya dan duduk manis depan jurusannya. Menunggu
erik tersayang.
“eh, Ra,
dengar-dengar erik udah balik yah dari Jepang?” salah satu temannya
menghampiri.
“iya, tadi malam”
Dera mengangguk sambil tersenyum
“cieee…. Yang lagi
nungguen pacar. Yang udah kangennya gak ketulungan..” isty, sahabatnya
menggodanya.
“apaan sih, biasa
aja” ucap dera menutupi perasaannya yang nyatanya sedang menggebu-gebu tak
karuan
“tuh…. Mukanya merah….
Senyumnya malu-malu gitu..” isty masih saja menggodanya. Membuat Dera semakin
salah tingkah.
Lewat dua puluh
menit, erik belum juga kelihatan. Isty sudah pulang sejak tadi. Buru-buru
katanya. Hari semakin sore, Dera kini sendirian, kampus semakin sepi, tapi
erikc belum juga muncul.
Dera mulai jengkel.
Dia lalu mengambil HPnya bermaksud untuk menghubungi erik. Ah sial, Hp-nya
lowbat. Komplit sudah rasa dongkol dihatinya Dera.
Dia mulai ngedumal
dalam hatinya. “kalo emang gak niat datang, ya jangan biarin aku nunggu gini
donk. Apa susahnya sih tinggal sms bilang ‘maaf sayang, aku gak jd datang, ada
yang harus aku urus’ ato gak tinggal bilang kan ‘aku gak jd datang, jangan
tunggu’ emangnya susah ya? Dia tau gak sih kalo aku nunggu?” Dera memutuskan
untuk pulang dan berjanji akan marah-marah ntar kalu ketemu dengan erik.
Sesampainya dirumah,
Dera langsung menuju kamar mandi, mandi, ingin mendinginkan kepala. Seperti kebiasaannya
kalo lagi jengkel, Dera mencari-cari es krim dalam kulkas. Makan es krim rasa
coklat memang sangat membatu meredakan emosi dihatinya Dera.
Tengah menikmati
eskrim sambil nonton, tiba-tiba dia teringat Hp nya yang lobat sejak sore tadi.
Rasa jengkelnya pada erik telah reda, digantikan dengan rasa kangen. Makanya dengan
segera dera men-cas Hp-nya, siapa tau erik akan menelponnya dan meminta maaf.
Dera sangat menikmati permintaaf maaf dari erik. karna jika Dera marah,
biasanya erik sadi sangat manis dan romantis. Dia jadi sangat memanjakan dera. Karnanya
sering kali dera pura-pura marah walaupun sebenarnya dia sudah tak merasa emosi
lagi.
Baru saja Hp
dinyalain, hp nya bordering, telpon masuk. Dari erik. dengan mimic pura-pura
ngambek, dera mengangkat telponnya. “Halo, rik kamu tadi kemana? Kok kamu
biarin aku nung….” Dera tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karna diseberang
justru terdengar suara isak tangis.
“halo?” ucap dera
heran.
“halo, dera. Ini
aku kak, ai” ternyata adekny Erik yang menelpon mengunakan hp-nya erik. dera
merasa ada yang salah. Tiba-tiba perasaan tidak menentu, antara takut dan
bingung. Dia sendiri tidak tau apa yang ditakutkannya. Firasat buruk
menguasainya.
Dera tak mampu
berkata-kata. Ai yang tak mendengar apapun, langsung melanjukan “kak Dera, Kak
Erik udah gak ada. Kak erik kecelakaan kak” ai mengatakannya dengan deraian air
mata.
Dera tidak tau harus
berbuat apa. Tiba-tiba air matanya tumpah ruah. Emosinya tak karuan. Dia lalu
menangis meraung-raung. “erik….” perasaannya benar-benar terluka, dera tak
mengerti apa yang terjadi, satu hal yang dia rasakan, sakit yang termat dalam
dari hatinya. Isty, yang ternyata telah mendengar kabar duka tersebut, langsung
mendatangi rumah Dera. Bersambung..... Tunggu cerita selanjutnya yaaahhhh..... :)
Sunday, 29 June 2014
Kisah Cinta Part#1
Kisah ini masih tentang cinta dan akan selalu menjadi kisah
cinta.
Kisah ini berawal saat aku mulai belajar seni bela diri taek
won do. Saat itulah aku bertemu dengannya. Jatuh cinta pada pandangan pertama,
mungkin itulah yang saat itu aku alami. Aku langsung terpaku oleh sorotan
matanya. Tatapannya yang tajam namun dingin membuatku tak bisa menatapnya lebih
dari sedetik.
“congre” teriakan sang pelatih gak terdengar olehku karna
pikiranku seketika lumpuh karna melihat matanya. Tuukkk!! Tiba-tiba aku kepalaku
kena jitak, ternyata aku sudah menjadi pusat perhatian gara-gara tidak
mengikuti instruksi sang pelatih. Dengan perasaan malu aku buru-buru
membungkukkan badan sesuai instruksi pelatih dan sambil mengucap “gamsammida”
“napa tadi? Kok kamu jadi salah tingkah gituh?” ai datang
menghampiriku selepas latihan. Dia tampak kehausan, kehausan gossip maksudnya
hahaha.
![]() |
| kisah Cinta |
“ai, ternyata keputusan yang tepat kita berlatih taek won do
disini” katanya dengan penuh semangat, semangat meneguk air mineral dari botol
air minumku yang udah aku siapin dari rumah.
“napa mangnya” ai tampak semakin penasaran “ada yang kamu
taksir ya?” langsung nebak aja dia.
“yap!” aku ngangguk senyum-senyum mirip iklan pepsodent di
TV. “ahirnya aku temukan cowok yang tipe gw baangat ai. Dia anak baru kali ya,
baru aku liat. Kenapa gak dari kemaren-kemarin sih aku dipertemukan ma dia.
Matanya itu loh, benar-benar bikin aku jatuh cinta. Pokoknya mulai sekarang aku
umumin sama kamu kalo aku jatuh cinta dengannya” aku menggebu-gebu seperti calon
legilatif yang lagi kempanye.
“siapa? Yang mana?” ai tampak gak sabar untuk mengetahui
klimaksnya.
“itu” aku menunjuk seseorang yang sedang melakukan
pendinginan di tengah ruang latihan “yang baju putih”
“um…. Si putih itu. Itu mah dari kemarin-kemarin emang udah
ada kali. Kamunya aja yang gak merhatiin” ai tampak kecewa.
“oh.. kok aku baru liat ya? Heheh :-p pokonya aku jatih cinta
ma dia” aku senyum dan diam-diam memperhatikannya.
Sejak hari itu, lebih dari seribu kali dalam sehari aku
menyebut dia dalam setiap kalimatku.
“ai, itu si putih (aku manggil dia si putih soalnya aku belum
tau namanya saat itu) kira-kira angkatan berapa ya?” aku mulai membicarakannya
tiap waktu. Ai hanya menanggapi seadaanya alia BOSAN. Bodo amat, hahaha:D
“ai, menurut mu si putih sukanya tipe cewe kaya gimana ya?”
“ai, kira-kira si putih suka gak ya ma gw?”
“ai, menurut mu itu si putih tinggal dimana?” pokoknya selalu
si putih, si putih dan si putih kata yang aku ucapkan dalam hari-hariku, hingga
puncaknya ai jadi sebel n jengkel ma aku, hehehe :-p
Oke, singkat cerita, sejak saat itu aku jadi selalu
memperhatikannya. Berusaha melakukan sesuatu hingga bisa membuatnya menoleh
padaku alias cari perhatian, selalu mencari alas an agar bisa bicara dengannya
alias sok asik, cari-cari alas an agar bisa dapatin nomor hp_nya senatural
mungkin (jangan sampae dia tau aku jatuh cinta setengah mati padanya). Yah
begitulah, mirip orang lagi jatuh cinta pada umumnya, hahaahh :D dan sejauh
yang aku tangkap, dia ngasih respon positive__kecuali gw yang ngerasaan keGRan
sendiri__ kami jadi saling dekat, baik diluar maupun lewat pesan-pesan singkat
elektronik atau bahasa kerennya SMS. Aku semakin yakin dia juga mencintaiku dan
hanya tinggal tunggu waktu saja sampai dia menyatakan cintanya padaku, hohoho (tertawa
penuh kemenangan).
Ahirnya, dia jadian dengan sahabatku.
Lho? Kok sahabatku? Bukannya aku? Pasti itu yang kalian
pikirkan. Aku juga sama kagetnya dengan kalian ketika pertama kali aku
mengetahui kabar kejadiannya mereka. eh, maksudnya kabar mereka jadian.
Kejadian mereka? Kaya kalimat dalam kitap kejadiannya umat kristus aje :-p
Okeh, begini ceritanya. Waktu itu saking bahagianya, aku
selalu pamerin si putih orang yang aku cinta pada teman-temanku, termasuk
minori, sahabatku. “lihat yang baju putih itu?” aku menunjukkannya pada minory.
Minory ngangguk “aku suka ma dia, cakep bangat, tipe gw bangat” aku jelas
sekali memuja si putih itu. “oh,, iya, cakep sih, bagus matanya. Tajam” saat
itu komentnya minori gitu doing. Dan entah mengapa tiba-tiba minory datang di
kamar gw dan dengan wajah bahagia, muka merah karena malu-malu, senyum
mengembang, hidung kembang-kempis karena degupan perasaannya yang meluap-luap,
dia berkata “aku dah jadian ma furqan (oh ya, aku udah tau namanya) tadi malam”
katanya membawa kabar dengan penuh aura kebahagiaan disekitarnya.
Aku tentu saja sempat syok, tapi gak struk apa lagi
jantungan. Seper sekian detik aku berusaha menyembunyikan kekagetanku. “waah…
selamat yah, ahirnya kamu dapat pacar pertama mu” ucapku memberinya selamat.
Ikut bahagia dengan berita sukanya walau kecewa, heran, bingung, syok masih
berkecamuk dalam hatiku.
Setelah minory pergi, aku gak bisa pura-pura tersenyum lagi.
Aku heran, kenapa furqan jadian dengan minory? Padahal aku yakin, sangat yakin
dia pernah bilang dalam salah satu smsnya ‘kamu sudah punya pacar? Soalnya aku
gak suka ngambil pacarnya orang’ atau ‘ada sesorang yang aku suka di taek won
do, bagaimana kalau orang itu adalah kamu?’ aku yakin gak salah eja kalimat
itu, aku udah lulus tes baca semenjak aku masih duduk di usia TK, jadi gak
mungkin aku salah baca. Saat itu yang terbersit dalam pikiranku pertama kali
adalah, furqan ingin mempermainkanku, ingin merusak persahabatanku dengan
minory. Dia mengatakan suka padaku tapi dia malah nembak orang lain. Apa
maksudnya?! Aku harus minta penjelasannya.
Friday, 27 June 2014
CINTA TAK HARUS MEMILIKI
Cinta tak harus memiliki. Mungkin
kalimat itulah yang paling pas untuk menggambarkan keadaanku sekarang. Aku
jatuh cinta setengah mati dengan seseorang, dengan seluruh jiwaku aku
mencintainya. Api dengan seluruh jiwa pula aku tak ingin menjadi miliknya.
Aku juga heran kenapa bisa
mengalami perasaan yang seperti ini, cinta dengan segenap hati, tapi dengan
segenap hati pula aku tak ingin menikah dengannya.
Aku sadar, membangun sebuah
keluarga itu tidak hanya butuh cinta saja. Aku sadar betul itu. Karnanya saat
ini aku benar-benar harus berusaha keras agar hatiku tidak terlalu terluka
ketika harus pelan-pelan melepaskannya pergi.
Aku mengidamkan sebuah keluarga
yang bahagia__aku tau semua gadis pasti memimpikan hal yang sama__ dan aku tau
betul bahagia dalam keluarga itu seperti apa. Aku ingin punya suami yang
dewasa, agar dy bisa bertanggung jawab, agar dy tau hak-hak dan kewajibannya
sebagai suami, agar dy tau bagaimana cara membahagiakan istrinya. Dan furqan,
lelaki yang setengah mati aku cintai ini, sangat jauh dari kata dewasa. Bukan
karna dia belum dewasa, tapi karna begitulah adanya dia, dia terlahir dari
keluarga yang memanjakannya, sehingga dia selalu mengandalkan orang lain dalam
setiap keputusannya.
Dia sama sekali tidak bertanggung
jawab, jika melakukan salah, tak mau minta maaf, malah bersikap seolah dia tak
bersalah dan tak tau apa yang terjadi.
Dia selalu menggampangkan janji.
Janji yang dia buat sendiri, aku gak marah, hanya saja aku merasa lelah
menghadapi sikapnya. Dari dulu aku selalu menunggu dan memberi kesempatan,
lagi, lagi, kesempatan terus, hingga dua tahun lebih hubungan kami sekarang,
dia masih sama, tanpa perubahan. Seperti itulah apa adanya dia. Dia yang apa
adanya seperti itu yang tak bisa aku percaya untuk memimpin keluargaku kelak.
Meskipun aku menginginkannya
sepenuh jiwaku, tapi aku tetap tak boleh membiarkan hatiku tetap seperti itu. Aku
harus mulai belajar untuk melepaskannya.
Aku mempikan seorang laki-laki yang
bisa dipercaya, orang yang bisa membuatku merasa aman untuk menyerahkan seluruh
hidupku padanya, dan itu bukan dia.
Semakin lama hubungan kami, aku
semakin yakin, bahwa dia tak bisa mempimpin keluarga seperti apa yang aku
idam-idamkan selama ini.
Susah. Sangat susah. Masalah hati
tidak segampang mengorek kuping atau mengeluarkan upil. Hati, butuh waktu lama
untuk melepaskan seseorang yang telah lama melekat didalamnya.
![]() |
| CINTA TAK HARUS MEMILIKI |
Furqan, I love you. So much.
Kenapa kamu gak bisa berubah? Demi
aku, plissss… aku sangat menginginkanmu, tapi tak kan mungkin jika kamu ttp
seperti ini.
Selalu membuatku
menangis, selalu melanggar janji sendiri, selalu membuatku menunggu, selalu
membuatku sakit, jadi masa depan apa yang bisa kau tawarkan padaku?! NOTHING!!
Tuesday, 10 June 2014
Bukanlah Cinta
BUKANLAH CINTA
Yang aku tau hatiku mencintaimu,
tapi aku sadar perasaan yang aku miliki ini bukanlah cinta seperti yang
orang-orang koar-koarkan selama ini. Bukan pula cinta yang sering diceritakan
dalam- dongeng-dongeng.
Yang aku alami ini bukanlah cinta
seperti dalam negeri dongeng. Kisah Cinderella, putri yasmin, siburuk dan si
jelita, atau cerita-cerita dalam FTV yang sekarang ini lagi naik daun, sang
konglomerat jatuh cinta pada loper Koran, atau sejenisnya lah…. Semua itu hanya
ada dalam imajinasiku.
Cinta. Sebenarnya aku sangat
membenci perasaan ini. Karna kapan aku jatuh cinta, maka logikaku sering kali
tergoyah bahkan menjadi tumpul.
Aku sangat tidak ingin jatuh
cinta. Cinta membuatku bodoh.
Saat ini yang aku inginkan
hanyalah lepas dari perasaan ini. Oh, aku membenci perasaan ini bukan karna aku
tak menginginkan cinta. Omong kosong, semua orang butuh cinta, bahkan dalam
alquran pun hal itu dijelaskan. Hanya saja, cinta seperti dalam impianku
rasanya tak pernah nyata, aku memimpikan cinta sejati. Cinta yang benar-benar
cinta, cinta yang tumbuh dari hati, cinta pada cinta dan saling menintai.
Aku mendambakan cinta seperti
Rasullullah kepada khadijah dan begitupun sebaliknya.
Hahahah… aku tau, aku ini terlalu
naïf memimpikan cinta seperti cinta yang dimiliki Rasullullah kepada Khadijah,
memangnya apa istimewanya aku hingga berani memimpikan cinta yang begitu agung?
Khadijah sudah jelas wanita yang sangat mengagumkan, tak sepantasnya aku ingin
menyaingi dirinya dalam mendapatkan cinta!
Okelah, aku tak seluar biasa
wanita pertama yang memeluk islam itu, tapi paling gak, aku ingin melihat bukti
cinta yang nyata dalam kehidupan nyata.
Selama ini sepanjang perjalanan
hidupku, aku belum menjumpai cinta seperti yang orang-orang ceritakan. Bahkan
cinta ibu kepada anaknya. Yah,, itu episode yang berbeda, akan aku ceritakan
kapan-kapan. Saat ini kita kembali dulu pada cerita tentang perasaanku terhadap
seorang lawan jenisku.
Tentu saj aku memimpikan sebuah
cinta. Cinta yang indah, cinta yang bahagia. Tapi entah kapan cinta itu akan
dating menghampiriku.
Namanya furqan. Yah.. orang aku
bicarakan dari tadi, namanya furqan.
Dialah orang yang telah
menyiksaku seperti ini.
Dia terlalu bodoh untuk memahami
apa yang aku rasakan terhadapnya. Karnanya aku simpulkan aku tak akan menikah
dengannya. Jika aku kelak menikah dengannya aku jamin bakalan makan hati tiap
hari, makan hati yang bikin kurus, bukan hati yang bikin gemuk. Hahah :D
Meskipun aku saaaaaangat-sangat
bahagia selagi bersamanya, tapi dia tidak mengerti hal itu. Dia tidak mengerti
arti perasaan dia hanya mengerti sesuatu seperti jam, lama waktu berkunjung,
atau tujuan kenapa dia berkunjung, atau hal-hal menyebalkan sejenis itu. Dia
sama sekali tidak mengerti tentang perasaan. Tentang suatu naluri. Tentang
hasrat, tentang rasa sepi, tentang kekosongan, tentang kerinduan.
Aku merindukannya setiap saat.
Aku tau itu salahku. Jadi bukan salahnya jika dia tidak dapat hadir ketika aku
begitu merindukannya, karna aku merindukannya setiap detik. Hahaha :D karnanya
aku mendesaknya untuk menikah segera, agar kami bisa selalu bersama tiap waktu.
Tapi dia saat yang sama, aku juga menolak sekuat tenaga perasaanku padanya. Aku
menolak menginginkannya. Aku mengingkari kemauanku dan aku berharap tak pernah
bertemu dengannya.
Aku begitu teromabang ambing
dalam perasaanku sendiri ini bukan karna dia tak mencintaiku, tapi karna aku
tak mau dicintai olehnya.
Cintanya membuatku lemah
sementara logikaku menolaknya habis-habisan. Dia bukan orang yang aku cari.
Jika sedang bersamanya, aku
seribu kali lipat merindukannya dan menginginkannya menjadi suamiku. Tapi saat
aku tak bersamanya, seribukali pula aku ingin melupakannya.
Jika tiap detik aku
merindukannya, maka tiap detik pula aku berdoa agar aku bisa melupakannya.
Aku ingin cepat-cepat sarjana,
menyelesaikan studiku dikota ini agar aku bisa cepat-cepat meninggalkan kota
ini, menjauh darinya. Pergi entah kemana asalkan bukan disini, mencari
kesibukanku sendiri, bertemu dengan banyak orang, mengenal banyak orang dan
kembali jatuh cinta pada orang yang tepat.
Aku igngin melupakan cerita
cintaku dengannya, cerita cinta yang dipenuhi air mata.
Ak ingin cinta yang bahagia, yang
membuatku tetap tersenyum meski jarak memisahkan. Cinta yang mampu membuatku
mencitai dengan tulus. Cinta yang bisa membuatku bahagia apapun keadaanku.
Aku tidak menyangkal kebahagiaan
yang aku rasakan selama bersama furqan, hanya saja bahagianya begitu semu.
Bahagia hanya ketika dia ada, jika dia pergi, lenyap pula bahagia itu. Dia
adalah pelangiku.
Aku mendambakan cinta yang
seperti langit kepada bumi. Apapun keadaanya tetap setia memayungi bumi.
Aku mendambakan langitku, dan
furqan hanya pelangiku, yang member kebahagiaan semu.
Aku berusaha mencari jalan cintaku
sendiri, tapi hingga saat ini belum ada yang benar-benar aku inginkan untuk
menjadi pendamping hidupku.
Menikah. Menikah adalah kehidupan
yang kompleks. Aku harus hati-hati menentukan siapa suamiku. Jika salah
memilih, masa depanku dipertaruhkan.
aku benar-benar serba salah saat
ini. Jika memang jodoh adalah cinta sejati kita. Kalo memang jodoh pasti
bertemu, jika memang jodoh sudah ditetapkan oleh Allah, maka buat apa kita
berinteraksi dengan orang lain dengan tujuan mecari mendamping hidup? Lalu
kenapa manusi mesti resah memilih dan memilih pasangan hidup? Bukankah yang
Allah pilihkan buat kita pasti sudah tentu benar dan terbaik?
Lalu, pertanyaannya. Kenapa
dengan beberapa orang yang aku kenal, cantik, pintar, punya pekerjaan yang
memadai (wanita) tapi hingga kini (usia 35 tahun) masih belum juga menikah?
Kini dia menjadi buah bibir diantara orang-orang sekitar.
Monday, 9 June 2014
Cinta, Mengertilah
CuCo’
Curha Cinta bO’
ini
dia cerita mimin malam ini. Curahan hati tentang kekasih yang tak pernah
mengerti perasaan mimin.
Tentang
kekasih yang terlanjur mimin cintai.
Tentang
kekasih yang ingin mimin lupakan.
Tentang
kekasih yang mimin harap tak pernah mengenalnya.
Tentang
kekasih yang telah memberi mimin banyak janji-janji.
Tentang
kekasih yang seperti pelangi.
Cinta, Mengertilah!!
Apa Kamu Benar-Benar Tidak
Mengerti?
Aku harap kamu ada disini
sebenarnya bukan karna aku butuh bantuanmu untuk mengerjakan tugas-tugasku,
tapi lebih karna hatiku yang membutuhkanmu. Cukup kamu ada didekatku saja, aku
sudah merasa sangat bahagia, merasa tenang, merasa tak kuarang suatu apapun.
Tapi kenapa kamu sepertinya sama sekali tidak mengerti?
Banyak alasan yang aku buat agar
aku bisa tetap bersamamu, agar kamu tetap tinggal disisiku. Tapi sepertinya
kamu sama sekali tidak mengerti apa yang aku rasakan. Entah karna kamu tidak
peduli, terlalu bodoh atau karna hatimu memang tidak pernah berusaha memasuki
hatiku, hingga membuatmu mengerti.
Aku selalu merindukanmu, tiap
minggu, tiap hari, tiap jam bahkan tiap detik, selalu dan terus merindukanmu,
tak bisakah kamu mengerti?
Mungkin ini bukan cinta, karna
perasaan ini begitu menyiksa.
Kata orang cinta itu anugrah.
Jika memang cinta adalah anugrah, sudah pasti dia membawa kebahagiaan. Makanya
aku tau bahwa yang aku rasakan ini bukanlah cinta.
Aku ingin melepaskan perasaan
ini, agar aku terbebas dari perasaan yang sangat menyiksa ini. Tapi entah
mengapa aku masih belum bisa melakukannya. Beberapa kali pernah kucoba, mulai
dari menjauhimu, membencimu, menghilangkan jejakmu, tapi ahirnya aku sadar,
bahwa dengan begitu, aku semakin menyiksa diriku.
Aku simpulkan bahwa aku tak
sanggup. Aku ingin tetap bersamamu, meski begitu melelahkan mengikuti
tingkahmu.
Cinta, mengertilah!!
Aku hanya ingin bersamamu, karna
bersamamulah bahagiaku. Apalah artinya memiliki waktu didunia bila tak
bahagia?! Karnanya aku ingin bersamamu agar waktuku didunia ini tak sia-sia
belaka, aku ingin bahagia.
Kasih, mengertilah!!
Bahkan saat inipun aku sangat
merindukanmu. Disaat aku sangat membencimu sekalipun, disaat aku benar-benar
ingin melupakanmu pun, aku sangat merindukanmu. Rindu, rindu, sangat rindu.
Bisakah kamu menjadi langit
bagiku? Bukan pelangi yang indahnya hanya sesaat!
Kamu layaknya pelangi bagiku.
Indah, menwan, memberi harapan, membawa kebahagiaan. Tapi kamu begitu cepat
berlalu, hilang, berlalu.
Tidakkah kamu pikir aku masih
membutuhkanmu?
Tidakkah kamu peduli pada
senyumku yang lenyap ketika kepergianmu?
Tapi begitulah sejatinya kamu,
Sekedar menghibur setelah duka,
sekedar memberi janji, tapi tidak menemani mewujudkan janji itu.
Lalu apa lagi yang aku harapkan?
Cinta, mengertilah!!
Bertahanlah disini sebentar lagi,
perhatikan tingkahku, biarkan aku bermanja-manja pada indahmu, ijinkan aku
menikmati warnamu lebih lama,
Tapi seolah tak perduli, kamu
pergi, memudar dan lenyap, meninggalkanku, tanpa peduli perasaanku.
Kasih, mengertilah!!
Aku merindukanmu. Aku
membutuhkanmu untuk hatiku.
Kasih, ini terdengar begitu
ironis,, aku membencimu karna merindukanmu, aneh bukan?
Subscribe to:
Posts (Atom)


